Lika-Liku Bermusik di Kota Daeng, Sulitnya Izin Hingga Perlakuan Kurang etis

0
259

Channelindonesia.id – Kota Makassar salah satu kota di Indonesia yang marak dengan variasi karya seni musik. Dibuktikan dengan banyaknya lahir musisi serta media-media yang meramaikan warna belantika musik di Indonesia.

Hal ini pastinya tak lepas dari dukungan dari setiap elemen masyarakat kota itu sendiri. Namun, tak jarang begitu banyak hambatan yang dirasakan setiap musisi atau pelaku seni musik di kota ini.

Mulai dari pembatasan perizinan, langkanya ruang-ruang kreatifitas, hingga minimnya edukasi yang membuat kolotnya pemikiran bahwa musik hanya kegaduhan anak muda semata.

Kejadian tersebut pernah dialami oleh Band Freesmile beberapa hari lalu di salah satu cafe di Kota Makassar yaitu New Dafest, Minggu (19/02/2023).

Kegiatan nobar yang diselingi penampilan musik yang dilaksanakan salah satu kelompok pemuda mendapat perilaku kurang etis dari pihak pengelola.

Pasalnya penampilan musik yang seharusnya dilaksanakan di sore hari (setelah nobar) diundur hingga pukul 20:00 waktu setempat.

Tidak sampai disitu saja, ketika penampilan band yang baru memainkan 2 lagu, pengelola tiba-tiba mematikan sound system dengan alasan keamanan padahal semua berjalan baik-baik saja.

Sorak sorai penonton dan aksi panggung sang vokalis yang mengajak penonton bernyanyi bersama di mikrofon dianggap oleh pihak keamanan dan pengelola sebagai sesuatu yang mengancam ketertiban dan keamanan, faktanya itu hal yang lumrah dalam sebuah penampilan musik.

“Kacau sih, kita sudah menunggu hampir 3 jam, teman-teman yang ingin nonton rela tinggal untuk menunggu band tampil, ehh ujung-ujungnya dibeginikan, parah. Padahal semua baik-baik saja, euphoria teman-teman itu hal wajar, seandainya ada kericuhan atau semacamnya itu kami setuju jika dihentikan seperti ini, tapi semua baik-baik saja, harusnya tempat ini senang karena ada kegiatan dan tempatnya ramai, tapi malah begini,” ungkap abdul salah satu personel band freesmile (band yang dihentikan langsung ditengah penampilan).

Ini salah satu bukti minimnya dukungan dan edukasi dari lingkungan masyarakat untuk karya dan kegiatan-kegiatan positif anak muda, yang seharusnya diberikan dukungan dan wadah demi kemajuan kota dan lingkungan positif. (Rilis)

Penulis: Abdur

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini